Pengertian Partus Prematurus, Artikel, Makalah, Penyebab Partus Prematurus

0
 
Pengertian Partus Prematur – Partus atau persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri), yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir (Rustam, 1998 : 91).

2.1.1  Menurut Cara Persalinan

  • Partus Biasa (normal) disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada Letak Belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat- alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
  • Partus Luar Biasa (abnormal) ialah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea. (Makalah Partus Prematur)

2.1.2  Menurut Tua (umur) kehamilan

  • Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan dapat hidup (viable), berat janin dibawah 1000  gram dan usia kehamilan dibawah 28 minggu.
  • Partus Prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28- 36 minggu, janin dapat hidup tetapi premature, berat janin antara 1000- 2500 gram.
  • Partus Maturus atau aterm (cukup bulan) adalah partus pada kehamilan 37- 40 minggu, janin matur, berat badan di atas           2500 gram.
  • Partus Postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi         2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir, janin disebut postmatur.
  • Partus Presipitatus adalah  partus yang berlangsung cepat, mungkin di kamar mandi, di atas becak dan sebagainya.
  • Partus percobaan adalah suatu  penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disproporsi sefalopelvik (Rustam, 1998 : 91).
Pengertian Partus Prematur

Partus prematur adalah partus yang terjadi di bawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin kurang dari            2500 gram (Manuaba, 1998 : 221).

Partus prematur didefinisikan sebagai partus yang terjadi antara usia kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (Nur, 2008).

Partus prematur didefinisikan sebagai munculnya aktivitas uterus regular yang menghasilkan pendataran maupun dilatasi sebelum kehamilan 37 minggu selesai (Chapman, Vicky, 2006 : 184).

Faktor Predisposisi Partus Prematur
 Faktor predisposisi dari partus prematur meliputi dua faktor, yaitu :

a. Faktor Kehamilan 

  1. Kehamilan hidramnion
  2. Ketuban pecah dini 
  3. Gemelli 
  4. Pre eklampsia-eklampsia 
  5. Perdarahan ante partum

b.  Faktor Individu

1.  Keadaan sosial ekonomi rendah 

  • Kurang gizi
  • Anemia 
  • Paritas 
  • Usia ibu terlalu muda (kurang dari 20 tahun) atau terlalu tua (diatas 35 tahun)
Pasien dengan paritas lebih dari tiga ada kecenderungan mempunyai risiko empat kali  lebih besar dibandingkan dengan pasien yang paritasnya kurang dari tiga.  

2.  Penyakit yang menyertai kehamilan 

  • Tekanan darah tinggi
  • Penyakit kencing manis 
  • Penyakit jantung atau paru 
  • Penyakit endokrin 
  • Terdapat faktor rhesus (Manuaba, 1998 : 222).
 
Kelahiran prematur disebabkan karena beberapa hal yang bisa menimbulkan kontraksi spontan dimana kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin. Secara anatomis kutub bawah persambungan selaput janin dengan desidua yang menutupi koralis servikalis tersambung dengan vagina. Meskipun demikian susunan anatomis ini menyediakan jalan masuk bagi penyebaran mikroorganisme ke dalam jaringan intrauteri dan kemudian menginvasi kantomh amnion. Mikroorganisme ini menginduksi pembentukan sitokinin yang memicu produksi prostaglandin dan mendorong terminasi kehamilan lebih dini (Cunningham, 2006 : 307).  

Beberapa kepustakaan menyebutkan partus prematur lebih sering terjadi pada wanita multipara, karena adanya jaringan parut uterus akibat kehamilan dan persalinan sebelumnya (berulang). Jaringan parut ini  menyebabkan tidak adekuatnya persediaan darah ke plasenta sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan mencakup uterus lebih luas. Plasenta yang melekat tidak adekuat ini mengakibatkan isoferitin  yang merupakan protein hasil produki sel limfosils T untuk menghambat reaktivitas uterus dan melindungi buah kehamilan  diproduksi sediki. Sehingga dengan keadaan demikian risiko untuk mengalami persalinan prematur menjadi lebih besar (Raymond, 2006 : 301)

Di samping itu paritas tinggi dianggap lebih berisiko untuk melahirkan secara prematur karena pengaruh penambahan usia ibu. Dengan meningkatnya usia akan terjadi perubahan-perubahan pada pembuluh darah dan menurunnya fungsi hormon pengatur siklus reproduksi (endometrium). Di samping itu dengan meningkatnya usia akan meningkatkan pula risiko hipertensi baik esensial maupun hipertensi dalam kehamilan yang merupakan faktor predisposisi terjadi partus prematur (Raymond, 2006 : 301). 

Wanita yang pernah melahirkan lebih dari 1 kali atau yang termasuk paritas tinggi mempunyai risiko lebih tinggi mengalami partus prematur karena menurunnya fungsi alat reproduksi dan meningkatkan pula risiko terjadinya perdarahan antepartum yang dapat menyebabkan terminasi kehamilan lebih awal (Saifudin, 2008).

Diagnosis Partus Prematurus

Diagnosis pada partus prematur didasarkan pada ada tidaknya kontraksi rahim yang teratur pada kehamilan kurang bulan yang beraitan dengan perubahan serviks  akibat dilatasi atau pembukaan (Hacker, Neville. F, 2001: 298).

Kriteria persalinan prematur antara lain kontraksi yang teratur jarak 7-8 menit atau kurang dan adanya pengeluaran lendir kemerahan atau cairan pervaginam dan diikuti salah satu dari berikut:

  • Pada pemeriksaan dalam terdapat pendataran 50-80% atau pembukaan 2 cm atau lebih.
  • Hasil pengukuran dengan USG dimana panjang servik kurang dari 2 cm.
 
Faktor Risiko Partus Prematur  
  • Kematian janin
  • Perdarahan intraventrikuler 
  • Sindrom gawat pernafasan 
  • Infeksi 
  • Hipoglikemia 
  • Hipotermia 
  • Retinopati prematuritas (Chapman, Vicky,  2006 : 185).
 
Komplikasi Partus Prematur

Komplikasi partus prematur yaitu terjadinya perdarahan plasenta dengan pembentukan prostaglandin dan mungkin induksi stress, janin mati, dan kelainan congenital (Saifudin, 2002 : 300) sedangkan menurut Nur Cahyo (2008) komplikasi partus prematur yaitu:

  • Sindroma gawat janin
  • Ketidakmatangan pada system saraf 
  • Rentang terjadinya perdarahan otak atau serangan apneu 
  • Intoleransi pemberian makanan 
  • Retinopati dan gangguan penglihatan  atau kebutaan  (fibroplasia retrolental) 
  • Displasia bronkopulmoner 
  • Penyakit jantung 
  • Jaundice 
  • Infeksi atau septicemia 
  • Anemia
  • Hipoglikemia/ Hiperglikemia 
  • Perkembangan dan partumbuhan yang terhambat 
  • Keterbelakangan mental dan motorik
Tanda dan Gejala Bayi Prematur 
  • Umur kehamilan sama dengan atau < 37 minngu
  • Berat badan sama dengan atau < 2500 gram
  • Panjang badan sama dengan atau < 46 cm
  • Kuku panjangnya belum melewati ujung jari 
  • Batas dahi dan rambut kepala belum jelas 
  • Lingkar kepala sama dengan atau < 33 cm
  • Lingkar dada sama dengan atau < 30 cm
  • Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang 
  • Rambut lanugo masih banyak 
  • Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya 
  • Tumit mengkilap, telapak kaki halus 
  • Testis belum turun ke dalam skrotum (bayi laki-laki), klitoris menonjol dan labia mayora belum tertutup labia minora (bayi perempuan) 
  • Tonus otot lemah 
  • Fungsi saraf  belum atau kurang matang  
  • Vernik kaseosa tidak ada atau sedikit (Asrining, 2003 : 32).
Pengertian Partus Prematurus
 

Daftar Pustaka

Champan, Vicky. (2003).  The Midwife’s Labor and Birth Handbook. H. Y. Kuncara (2006) (Alih Bahasa), Jakarta : EGC

Nursalam. (2003). Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan . Jakarta : EGC

Nur, C. (2008). Prematuritas. http://www.indonesiaindonesia.com.2008. accessed on Saturday April 26, 2008, 09.00 am.

Cunningham. (2006). Obstetri William. Jakarta : EGC.

Raymond. (2006). Obstetric and Ginecology. Jakarta: Hipocrates

Saifudin. (2002).  Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP

Hacker, Neville. F. (1995). Obstetri dan Ginekologi Esensial. Edi Nugroho (2001)  (Alih Bahasa). Jakarta: Hipokrates

Asrining, S. (2003). Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta : EGC

Mioma Uteri

0

Mioma Uteri

Gambar

A. Pengertian

Mioma uteri adalah tumor jinak yang paling umum pada daerah rahim atau lebih tepatnya otot rahim dan jaringan ikat disekitarnya. mioma uteri juga sering disebut dengan Leiomioma, Fibromioma atau Fibroid, hal ini mungkin karena memang otot uterus atau rahimlah yang memegang peranan dalam terbentuknya tumor ini.
B. Etiologi

Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri.Diduga  mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom, khususnya pada kromosom lengan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.

  1. Estrogen

Beberapa ahli dalam penelitiannya menemukan bahwa pada otot rahim yang berubah menjadi mioma ditemukan reseptor estrogen yang lebih banyak daripada otot rahim normal. Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan hiperplasia endometrium (9,3%).Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.

  1. Progesteron

Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.

  1. Hormon pertumbuhan

Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen.
Faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :

  1. Umur :
    Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35 – 45 tahun.
  1. Paritas :
    Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
  1. Faktor ras dan genetik :
    Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
  1. Fungsi ovarium :
    Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.

C. Klasifikasi

Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena

  1. LokasiCerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi. Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius. Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.
  1. Lapisan UterusMioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasinya dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
  1. Mioma Uteri SubserosaLokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.
  1. Uteri IntramuralDisebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan).
  1. Uteri SubmukosaTerletak di bawah endometrium. Dapat pula bertangkai maupun tidak. Mioma bertangkai dapat menonjol melalui kanalis servikalis, dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau infeksi. Tumor ini memperluas permukaan ruangan rahim.
    Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti. Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya dilakukan histerektomi.

D. Gejala
Keluhan yang dirasakan terggantung dari lokasi mioma, besarnya serta perubahan perubahan yang terjadi pada organ sekitarnya. Keluhan itu antara lain:

  • perdarahan abnormal
  • rasa nyeri yang kelewatan
  • gangguan kencing kalau miomanya menekan kandung kencing yang letaknya di bawah rahim maka akan terjadi.
  • keguguran bila pasien mioma hamil maka bisa terjadi
  • infertilitas

E. Komplikasi

  1. Pertumbuhan leimiosarkoma.Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause.
  1. Torsi (putaran tangkai)Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut.
  1. Nekrosis dan InfeksiPada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.

F. Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun, Albumin : turun, Lekosit : turun / meningkat, Eritrosit : turun.
  2. USG : terlihat massa pada daerah uterus.
  3. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.
  4. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.
  5. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.
  6. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.

G. Penatalaksanaan

Pada mioma kecil dan tidak menimbulkan keluhan, tidak diberikan terapi, hanya perlu diamati tiap 3 – 6 bulan untuk menilai pembesarannya. Pembedahan dan pengangkatan mioma dilakukan bila besarnya mioma melebihi besar rahim seperti pada kehamilan 12 – 14 minggu. Sekitar 15 – 40% terjadi kekambuhan setelah dilakukan miomektomi atau pengangkatan mioma dan 2/3-nya memerlukan pembedahan lagi.

Selain itu indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan, cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus, serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding, perut pada malignan neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker, Susan Martin, 1998).

TETANUS NEONATORUM

1

TETANUS NEONATORUM

Gambar

Tetanus neonatorum merupakan suatu penyakit akut yang dapat dicegah namun dapat berakibat fatal, yang disebabkan oleh produksi eksotoksin dari kuman Clostridium tetani gram positif, dimana kuman ini mengeluarkan toksin yang dapat menyerang sistem syaraf pusat.

Masa inkubasi kuman 3-28 hari, namun biasanya 6 hari, dimana kematian 100% terjadi terutama pada masa inkubasi < 7 hari.

Faktor predisposisi

  • Adanya spora tetanus
  • Adanya jaringan yang mengalami injury, mislanya pemotongan tali pusat
  • Kondisi luka tidak bersih, yang memungkinkan perkembangan mikroorganisme host yang rentan

Faktor resiko

  • Imunisasi TT tidak dilakukan/tidak sesuai dengan ketentuan program
  • Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai APN
  • Perawatan tali pusat tidak memenuhi standar kesehatan

Pencegahan

  • Imunisasi TT
  • Memperhatikan sterilitas saat pemotongan dan perawatan tali pusat

Kekebalan diperoleh melalui imunisasi TT

Sembuh tidak berarti kebal terhadap tetanus

Toksin tetanus ;

  • Menyebabkan penyakit tetanus
  • Tidak cukup merangsang pembentukan zat antibody terhadap tetanus
  • Harus tetap imunisasi TT

Imunisasi TT merangsang pembentukan antibody spesifik yang mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu hamil mendapatkan imunisasi TT, sehingga terbentuk antibody dalam tubuhnya. Antibody tetanus termasuk golongan Ig G, melewati sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin yang dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum.

Gejala

  • Bayi yang semula dapat menetek, kemudian sulit menetek karena kejang otot rahang dan faring
  • Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan
  • Kejang terutama bila terkena rangsang cahaya, suara, sentuhan
  • Kadang disertai sesak nafas dan mulut bayi membiru
  • Suhu tubuh meningkat
  • Kaku kuduk
  • Kekakuan disertai sianosis
  • Nadi meningkat
  • Berkeringat banyak
  • Tidak dapat menangis lagi
  • Mata terus tertutup
  • Dinding perut keras
  • Kesadaran baik

Komplikasi

  • Bronkopneumonia
  • Asfiksia
  • Sianosis akibat obstruksi jalan nafas oleh lendir/sekret

Prognosa

  • Bayi mengalmi panas atau peningkatan suhu (prognosa buruk)
  • Bayi dapat bertahan lebih dari 4 hari (dapat disembuhkan)
  • Untuk penyembuhan sempurna membutuhkan waktu beberapa minggu
  • Angka mortalitas 30%
  • Penyakit ini fatal pada BBL

Penanganan

  • Mengatasi kejang dengan memberikan suntikan antispasmodik
  • Membersihkan jalan nafas agar bayi dapat menghirup udara dengan bebas
  • Pemasangan spatel lidah yang dibungkus dengan kain untuk mencegah lidah tergigit
  • Mencari tempat masuknya spora tetanus pada tali pusat atau telinga
  • Mengobati penyebab tetanus dengan antibiotika
  • Melakukan perawatan yang adekuat, dengan pemberian oksigen, nutrisi serta menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
  • Ditempatkan di ruang tenang dengan sedikit sinar

Aktif Suami dalam SATGAS GSI)

0
2.1 TABULIN
 
2.1.1 Definisi Tabulin
Tabulin adalah tabungan yang dipersiapkan untuk persalinan yang dilakukan pada pasangan suami istri yang merencanakan kehamilannya.
 
2.1.2 Manfaat Tabulin
            Manfaat tabulin diantaranya sebagai tabungan/simpanan itu yang digunakan untuk persalinan atau sesudah persalinan.Ibu dan keluarga tidak mersa terbebani biaya persalinan.
 
2.1.3 Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam tabulin :
·       Pengalokasian / pemanfaatan pembiayaan kesehatan.
·       Identifikasi sumber dana yang sudah ada dan yang akan dikembangkan.
·       Cara pengelolaan dan pembelajaran perlu kejelasan dalam hal mekanisme pengumpulan dana, kesempatan pengelolaan dan sistem kontrak.
·       Kesiapan keluarga dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembiayaan kesehatan yang telah dan akan dikembangkan.
 
2.1.4 Indikator keberhasilan dalam tabulin :
·       Dana terhimpun, masyarakat yang berpartisipasi dalam pembiayaan kesehatan masyarakat.
·        Pengalokasian tepat sasaran sesuai berbagai kebutuhan kesehatan (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif).
·       Pengelolaan dan pemanfaatan tertib, mudah, lancar.
·       Kegiatan yang berkesinambungan.
            Tabulin atau tabungan ibu bersalin merupakan bagian dari program yang ada, dimana Ikatan Bidan Indonesia (IBI) selaku mitra Depkes dan BKKBN turut membina masyarakat untuk sosialisasi program ini. Selain itu utk biaya melahirkan, Tabulin juga bisa dipakai sebagai penunjang biaya pasca persalinan. Beragam penyuluhan yang menjadi program penting dalam siaga ini, karena dalam penyuluhan warga selalu diingatkan akan biaya kehamilan akan 3 TERLAMBAT, yaitu terlambat mengenali tanda bahaya , terlambat sampai RS dan terlambat mendapat pertolongan bidan / dokter. Juga bahaya 4 TERLALU yaitu : terlalu sering, terlalu muda, terlalu tua,terlalu banyak. Yang merupakan faktor resiko terjadinya komplikasi persalinan.
Sebelum ada desa siaga sudah dimulai dengan tabungan Ibu bersalin (Tabulin). Jadi kita menerangkan ke Ibu hamil dan keluarganya, meskipun kaya. Justru orang kaya tersebut memberikan contoh kepada orang-orang yang tidak mampu untuk menabung. Dan Ibu hamil di berikan buku yang dibawa setiap pemeriksaan.
 
2.1.5 Mekanisme Tabulin
Tabungan itu terbentuk berdasarkan RW atau Posyandu, bila Posyandunya empat, maka tabungannya ada empat di desa itu.
Ada pun manfaat dari tabulin antara lain :
·       Sebagai tabungan / simpanan itu yang digunakan untuk biaya persalinan atau sesudah persalinan.
·       Ibu dan keluarga tidak merasa terbebani terhadap biaya persalinan.
 
2.2 DONOR DARAH BERJALAN
 
2.2.1 Definisi Donor darah Berjalan
            Donor darah berjalan adalah donor yang dilakukan tiap hari. Donor darah berjalan ini adalah program PMI untuk memenuhi pasokan darah di PMI karena PMI sering mengalami kekurangan pasokan darah sedangkan yang membutuhkan donor darah sangat banyak.
            Donor darah berjalan merupakan salah satu strategi yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam hal ini direktorat Bina Kesehatan Ibu. Melalui program pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat, dalam upaya mempercepat penurunan AKl.
Donor darah berjalan adalah para donor aktif yang kapan saja bisa dipanggil. Termasuk kerja mobil ambulance dilapangan yang mendatangi instansi pemerintahan dan swasta terkait sediaan darah lewat program yang mereka buat.
Untuk menguatkan program tersebut Menteri Kesehatan Dr.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) mencanangkan dimulainya penempelan stiker perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) secara nasional. Dengan pencanangan ini, semua rumah yang di dalamnya terdapat ibu hamil akan ditempeli stiker berisi nama, tanggal taksiran persalinan, penolong persalinan, tempat persalinan, pendamping persalinan, transportasi dan calon pendonor darah. Dengan demikian, setiap kehamilan sampai dengan persalinan dan nifas dapai dipantau oleh masyarakat sekitar dan tenaga kesehatan sehingga persalinan tersebut berjalan dengan aman dan selamat.
 
Kebutuhan akan darah dari tahun ke tahun semakin meningkat yaitu mencapai 3 juta kantong per tahun. Sementara PMI setiap tahunnya hanya dapat mengumpulkan sekitar 1.2 juta kantong. Masih kurangnya jumlah kantong darah yang harus dikumpulkan disebabkan masih minimnya geliat masyarakat untuk mendonorkan darah mereka. Oleh karena itu perlu dilakukan penggalangan Donor Darah Sukarela (DDS).
 
2.2.2 Manfaat Donor Darah
Selain segi sosial dan derma yang dapat dijadikan dorongan mengapa kita perlu mendonorkan darah secara rutin, terdapat beberapa manfaat medis dari donor darah secara teratur. Donor darah terutama baik bagi mereka yang memiliki kandungan besi dalam darah berlebihan karena besi yang berlebih cenderung akan menumpuk pada berbagai organ vital seperti jantung, liver, ginjal dan mengganggu fungsinya (hemokromatosis). Selain itu, beberapa penelitian medis, walaupun belum sempurna dijelaskan secara medis, mengemukakan bahwa donor darah rutin akan membantu kelancaran aliran darah (sistem kardiovaskular). Pengurangan kekentalan darah sehingga menjamin kelancaran suplai darah bagi tubuh tersebut ditengarai menyebabkan efek positif bagi jantung, sehingga pernah ada penelitian yang menyatakan bahwa donor darah rutin mampu membantu mengurangi angka kejadian serangan jantung pada pria.
Mungkin kekhawatiran efek samping dari donor darah seperti yang dijadikan alasan bagi kebanyakan dari kita adalah benar, namun angka kejadiannya jarang. Dengan berbagai tahapan persiapan dan skrining sebelum mendonor maka semua efek samping tersebut nyaris tidak akan terjadi. Kekhawatiran akan terjadinya kekurangan darah (anemia) misalnya. Dengan pemeriksaan kadar Hb sebelumnya maka hal tersebut dapat dicegah. Selama Hb orang dewasa diatas 12, donor darah relatif aman untuk dilakukan, malah dianjurkan. Memar dapat terjadi pada bekas tusukan jarum, namun jarang luas dan hilang sempurna tidak lebih dari setengah minggu. Salah satu yang lumayan sering dijumpai adalah terjadinya reaksi hipovolemia yang berupa tekanan darah turun mendadak pasca donor sehingga membuat si pendonor merasa pusing, lemas dan mual.
            Hal ini dapat dicegah misalnya dengan menanyakan sebelumnya adakah riwayat kejadian tersebut pada donor sebelumnya, atau apakah ada riwayat penyakit tertentu, memeriksa tekanan darah sebelumnya, sesudah donor maka berbaring sekitar 10 menit lebih dulu sebelum berdiri dan berjalan, serta dengan diberikannya makanan dan minuman manis segera setelah donor. Kekhawatiran untuk terinfeksi penyakit serius seperti HIV misalnya, adalah berlebihan. Selama peralatan seperti jarum yang dipakai adalah steril dan masih baru, hal tersebut pastinya dapat dicegah. Justru resiko terinfeksi lebih besar terjadi pada mereka yang menerima transfusi darah ketimbang si pendonor karena beberapa ketidaksempurnaan dalam skrining darah.
            Dari sudut medis tindakan menyumbang darah merupakan kebiasaan baik bagi kesehatan pendonor. Salah satunya, dengan berdonor darah secara teratur secara tidak langsung pendonor telah melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur pula. Karena sebelum mendonorkan darah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kesehatan secara lengkap.
Darah yang disumbangkan dapat expired (kedaluwarsa) bila tidak terpakai. Sel-sel darah merah harus digunakan dalam 42 hari. Platelet harus digunakan dalam 5 hari, dan plasma dapat dibekukan dan digunakan dalam jangka waktu 1 tahun. Selain itu, donor darah akan membantu menurunkan risiko terkena serangan jantung dan masalah jantung lainnya. Penelitian menunjukkan, mendonorkan darah akan mengurangi kelebihan zat besi dalam tubuh. Walau masih perlu penelitian lagi untuk memastikannya, kelebihan zat besi diduga berperan menimbulkan kelainan pada jantung. Kelebihan itu akan membuat kolesterol jahat (LDL) membentuk ateros/derosis (plak lemak yang akan menyumbat pembuluh darah).
Jika donor darah dilakukan 2-3 kali setahun, atau setiap 4 bulan sekali, diharapkan kekentalan darah berkurang sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Sistem produksi sel – sel darah juga akan terus terpicu untuk memproduksi sel-sel darah baru yang akan membawa oksigen keseluruh jaringan tubuh. Sirkulasi darah yang baik akan meningkatkan metabolisme dan merevitalisasi tubuh.
 
Siklus pembentukan sel-sel darah baru yang lancar dan metabolisme tubuh yang berjalan baik, membuat berbagai penyakit dapat dihindarkan. Selama 24 jam setelah berdonor maka volume darah akan kembali normal. Sel-sel darah akan dibentuk kembali dalam waktu 4-8 minggu.
Merupakan salah satu kegiatan yang diadakan didesa-desa yang ingin menyukseskan program Desa Siaga. Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu melalui penyaluran donor darah untuk ibu hamil atau ibu bersalin yang membutuhkannya. Kegiatan donor darah berjalan melibatkan peran serta masyarakat, khususnya keluarga dari ibu hamil dan ibu bersalin. Masyarakat diharapkan dapat membangun sistem jaringan donor darah dalam suatu kelompok masyarakat desa, sehingga dalam situasi darurat donor secepatnya dapat diberikan kepada ibu melahirkan.
Secara umum proses pembentukan donor darah berjalan hampir sama dengan pembentukan dana sehat hanya saja pada tahap sosialisasi memerlukan bantuan dari palang merah indonesia ( PMI ) untuk menjelaskan masalah donor darah agar masyarakat bertambah pengetahuannya. Dengan demikian diharapkan dapat terjadi peningkatan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan donor darah. Pelaksanaan kegiatan donor darah berjalan melibakan seluruh anggota masyarakat termasuk ibu hamil. Pada tahap awal, setiap ibu hamil diharapkan memiliki lima orang dewasa dalam keluarganya untuk diikutsertakan dalam proses pemeriksaan kehamilan dan pemberian konseling mengenai segala persiapan kehamilan dan dalam menghadapi persalinan. Kelima orang tersebut diperiksa golongan darahnya untuk persiapan sebagai pendonor apabila terjadi perdarahan apabila sewaktu-waktu, seorang ibu hamil atau ibu bersalain memerlukan donor darah, bidan dapat segera menghubungi anggota keluarganya yang memiliki golongan darah yang sama. Sistem sederhanai ini diharapkan dapat memberikan dampak besar terhadap keberhasilan program Desa Siaga terutama untuk menurunkan angka kematian ibu hamil, bersaln, nifas , serta bayi.
 
2.2.3 Tahapan Donor Darah Berjalan
Adapun donor darah dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu :
1.     Fasilitasi warga untuk menyepakati pentingnya mengetahui golongan darah.
2.     Jika warga belum mengetahui golongan darahnya, maka perlu dilakukan pemeriksaan golongan darah bagi seluruh warga yang memenuhi syarat untuk menjadi donor darah.
3.     Hubungi pihak Puskesmas untuk menyelenggarakan pemeriksaan darah. Jika Puskesmas tidak mempunyai layanan pemeriksaan darah, maka mintalah Puskesmas melakukan rujukan. Jika diperlukan hubungi unit tranfusi darah PMI terdekat.
4.     Buatlah daftar golongan darah ibu hamil dan perkiraan waktu lahir, kumpulkan nama warga yang mempunyai golongan darah yang sama dengan ibu hamil. Catat nama dan alamat mereka ataupun cara menghubungi yang tercepat dari semua warga yang bergolongan darah sama dengan ibu hamil.
5.     Usahakan semua ibu hamil memiliki daftar calon donor darah yang sesuai dengan golongan darahnya.
6.       Buatlah kesepakatan dengan para calon donor darah untuk selalu siap 24 jam, sewaktu-waktu ibu hamil memerlukan tranfusi.
7.      Buat kesepakatan dengan Unit Tranfusi darah, agar para warga yang telah bersedia menjadi pendonor darah diprioritaskan untuk diambil darahnya, terutama tranfusi bagi ibu bersalin yang membutuhkannya.
8.     Kader berperan memotivasi serta mencari sukarelawan apabila ada salah seorang warganya yang membutuhkan darah.
                       
2.3 AMBULANCE DESA
 
2.3.1 Definisi Ambulance Desa
·       Ambulans desa adalah  mobil milik warga yang secara sukarela disiagakan untuk membantu ibu hamil yang telah tiba masa persalinannya atau ibu hamil yang diharuskan untuk memeriksakan diri ke fasilitas yang lebih memadai dari apa yang ada di tempat ia tinggal.
·       Ambulan desa adalah salah satu bentuk semangat gotong royong dan saling peduli sesama warga desa dalam sistem rujukan dari desa ke unit rujukan kesehatan yang berbentuk alat transportasi.
·       Ambulan desa adalah suatu alat transportasi yang dapat digunakan untuk mengantarkan warga yang membutuhkan pertolongan dan perawatan di tempat pelayanan kesehatan.
 
2.3.2 Tujuan Ambulance Desa
a)     Tujuan Umum
Membantu mempercepat penurunan AKI karena hamil, nifas dan melahirkan.
b)     Tujuan Khusus
Mempercepat pelayanan kegawat daruratan masa1ah kesehatan, bencana serta kesiapsiagaan mengatasi masalah kesehatan yang terjadi atau mungkin terjadi.
 
 
 
2.3.3 Sasaran Ambulance Desa
            Pihak-pihak yang berpengaruh terhadap perubahan prilaku individu dan keluarga yang dapat menciptakan iklim yang kondusif terhadap perubahan prilaku tersebut. Semua individu dan keluarga yang tanggap dan peduli terhadap permasalahan kesehatan dalam hal ini kesiapsiagaan memenuhi sarana transportasi sebagai ambulan desa.
 
2.3.4 Kriteria Ambulance Desa
·       Kendaraan yang bermesin yang sesuai standart ( mobil sehat ).
·       Mobil pribadi, perusahaan, pemerintah pengusaha .
·       ONLINE (siap pakai)
 
2.4 PERAN AKTIF SUAMI DALAM SATGAS GSI
Desa/Kelurahan Siap, Antar, Jaga (Siaga) adalah Desa/Kelurahan yang melaksanakan/menjalankan program GSI dan mempunyai/melaksanakan langkah sebagai berikut :
1.     Mempunyai SK tentang Satgas Revitalisasi GSI Desa/Kel termasuk rencana kerja Satgas tersebut
2.     Mempunyai data dan peta bumil yang akurat dan selalu diperbaharui
3.     Telah terbentuknya pengorganisasian Tabulin/Dasolin
4.     Telah terbentuknya pengorganisasian ambulans desa
5.     Telah terbentuknya pengorganisasian donor darah desa
6.     Telah terbentuknya pengorganisasian kemitraan dukun bayi dengan bidan
7.     Telah terbentuknya pengorganisasian penghubung/liason (kader penghubung)
8.      Adanya mekanisme/tata cara rujukan
9.     Adanya pengorganisasian : Suami Siaga, Warga Siaga, Bidan Siaga
10.  Adanya/telah terbentuknya Pondok Sayang Ibu
11.  Terlaksananya penyuluhan kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga, suami dan ibu hamil tentang peningkatan kualitas hidup perempuan, pencegahan kematian ibu, kematian bayi, ASI eksklusif, kesehatan reproduksi dan wajib belajar bagi perempuan
12.  Tersedianya/terlaksananya pencatatan dan pelaporan
 
Dalam upaya mencapai tujuan negara untuk mensejahterakan masyarakat telah dilakukan berbagai upaya pembangunan di daerah sampai tingkat desa/kelurahan. Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui penurunan Angka Kematian Ibu saat hamil, melahirkan dan masa nifas (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sejak tahun 1996 telah diluncurkan suatu gerakan yaitu Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang pencanangannya dilakukan oleh Presiden RI pada tangal 22 Desember 1996 di Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah.
Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan utamanya dalam percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penurunan AKI dan AKB berkontribusi dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah dan Negara yang salah satu indikatornya adalah derajat kesehatan. Upaya percepatan penurunan AKI dan AKB juga merupakan komitmen internasional dalam rangka target mencapai target Millenium Development Goal’s (MDG’s). Adapun target penurunan AKB adalah sebesar dua per tiga dan AKI sebesar tiga perempatnya dari 1990-2015.
Dalam pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI), Kecamatan merupakan lini terdepan untuk mensinergikan antara pendekatan lintas sektor dan masyarakat dengan pendekatan sosial budaya secara komprehensif utamanya dalam mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sebagai suatu gerakan, Gerakan Sayang Ibu (GSI) telah memberikan kontribusi yang dirasakan manfaatnya dengan adanya data,
·       Panduan penilaian
·       Kecamatan Sayang Ibu
·       Panduan penilaian
berkurangnya jumlah kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas, serta meningkatnya rujukan yang berhasil ditangani.
Dengan adanya perubahan sistem pemerintahan dan kebijakan sektor pemerintah, maka pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) perlu disesuaikan agar dapat bersinergi dan terintegrasi dengan program dan kegiatan lain yang ada pada daerah. Oleh karena itu diperlukan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI). Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah upaya pengembangan Gerakan Sayang Ibu (GSI) melalui upaya ekstensifikasi, intensifikasi dan institusionalisasi.
Untuk mendorong pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) perlu dilaksanakan berbagai upaya termasuk melalui penilaian untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) terutama di tingkat Kecamatan. Dengan adanya penilaian Kecamatan Sayang Ibu diharapkan peran pembinaan dan fasilitasi Kab./Kota dan Provinsi menjadi lebih optimal.

Kehamilan Ganda (Gemelli)

0

Kehamilan Ganda (Gemelli)

 

Gambar

 

A.    PENGERTIAN
Kehamilan ganda atau hamil kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. (Ilmu Kebidanan : 386)
 
B.     ETIOLOGI
1.      Faktor-faktor yang mempengaruhi : bangsa, umur, dan paritas, sering mempengaruhi kehamilan kembar 2 telur. pada kembar yang berasal dari satu telur, faktor bangsa, hereditas, umur dan paritas tidak atau sedikit sekali mempengaruhi terjadinya kehamilan kembar itu. Diperkirakan disini penyebabnya adalah faktor penghambat dalam masa pertumbuhan dini hasil konsepsi. Faktor penghambat yang mempengaruhi segmentasi  sebelum blastula terbentuk, menghasilkan kehamilan kembar dengan dua amnion, dua korion, dan dua plasenta seperti pada kehamilan kembar dizigotik. Bila faktor penghambat terjadi setelah blastula tetapi sebelum amnion terbentuk, maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 2 amnion, sebelum primitive streak  tampak, maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 1 amnion. Setelah  primitive streak terbentuk, maka akan terjadi kembar dempet dengan berbagai bentuk.
2.      Faktor obat-obat induksi ovulasi: Profertil, Clomid, dan hormon gona­dotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari dua.
3.      faktor lain dengan mekanisme tertentu menyebaabkan matangnya 2 atau lebih folikel de graaf atau terbentuknya 2 ovum atau lebih dalam 1 folikel.. kemungkinan pertama dibuktikan dengan ditemukannya 21 korpora lutea pada kehamilan kembar. Pada fertilisasi in vitro dapat pula terjadi kehamilan kembar, jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu dan jika semua embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rongga rahim ibu tumbuh dan berkembang lebih dari satu.
4.      Faktor keturunan.
5.      Faktor lain yang belum diketahui.
 
C.    JENIS GEMELLI
1.      Kehamilan kembar monozigotik
Kehamilan kembar yang terjadi dari satu telur disebut kembar monozigotik atau disebut juga identik, homolog atau univoler. Kembar monozigot berarrti satu telur yang dibuahi sperma, lalu membelah dua.
 
Masa pembelahan berpengaruh terhadap kondisi bayi kelak. Masa pembelahan sel telur terbagi menjadi 4 waktu, yaitu 0 – 72 jam, 4 – 8 hari, 9 – 12 dan 13 hari atau lebih.
Pada pembelahan pertama akan terjadi diamniotik yaitu rahim mempunyai dua selaput ketuban dan dikorionik atau rahim mempunyai dua plasenta.
Sedangkan pada pembelahan kedua, selaput ketuban tetap dua, tapi rahim hanya punya satu plasenta. Pada kondisi ini, bisa saja salah satu bayi mendapat banyak makanan, sementara bayi satunya tidak. Akibatnya perkembangan bayi bisa terhambat.
Lalu pada pembelahan ketiga selaput ketuban dan plasenta masing-masing hanya sebuah, tapi bayi masih membelah dengan baik
Pada pembelahan ke empat, rahim hanya punya satu placenta dan satu selaput ketuban, sehingga kemungkinan terjadi kembar siam cukup besar. Pasalnya waktu pembelahan telalu lama sehingga sel telur berdempet. Jadi biasanya kembar siam terjadi pada monozigot yang pembelahannya lebih dari 13 hari. Kira-kira sepertiga kehamilan kembar adalah monozigotik. Jenis kehamilan kedua anak sama, rupanya sama atau bayangan cermin, mata, kuping, gigi, rambut, kulit dan ukuran antropologik pun sama. Sidik jari dan telapak sama, atau terbalik satu terhadap lainnya. Satu bayi kembar mungkin kidal dan lainnya biasa karena lokasi daerah motorik di korteks serebri pada kedua bayi itu berlawanan. Kira-kira satu pertiga kehamilan kembar monozigotik mempunyai 2 amnion, 2 korion, dan 2 plasenta; kadang-kadang 2 plasenta tersebut menjadi satu. Keadaan ini tak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik. Dua pertiga mempunyai 1 plasenta, 1 korion, dari 1 atau 2 amnion.
 
2.      Kehamilan kembar dizigotik
Kira-kira dua pertiga kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur; disebut juga heterolog, binovuler, atau fraternal. Jenis kelamin sama atau berbeda, mereka berbeda seperti anak-anak lain dalam keluarga. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta, 2 korion dan 2 amnion. Kadang-kadang 2 plasenta menjadi satu.
 
Superfekundasi dan superfetasi
Superfekundasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan pada ovulasi yang sama pada 2 koitus yang dilakukan dengan jarak waktu pendek. Kehamilan demikian ini sulit dibedakan dengan kembar dizigotik. Pada tahun 1910 oleh Archer dilaporkan bahwa seorang wanita berkulit putih yang melakukan koitus berturut-turut dengan seorang kulit putih dan kemudian dengan seorang negro melahirkan bayi kembar dengan satu bayi berwarna putih dan yang lainnya berupa mullato.
            Superfetasi adalah kehamilan kedua yang terjadi beberapa mingggu atau beberapa bulan setelah kehamilan pertama terjadi. Keadaan ini pada manusia belum pernah dibuktikan, akan tetapi dapat ditemukan pada kuda.
 
D.    PERTUMBUHAN  JANIN
1.      Berat badan janin pada kehamilan kembar lebih ringan dari pada janin pada kehamilan tunggal pada umur kehamilan yang sama. Berat badan satu janin pada kehamilan kembar rata-rata 1000 gram lebih ringan dari pada janin kehamilan tinggal. Berat badan yang baru lahir umumnya pada kehamilan kembar kurang dari 2500 gram. Pada triplet kurang dari 2000 gram dan untuk kuadruplet kurang dari 1500 gram. Suatu faktor penting dalam hal ini adalah kecendrungan terjadinya partus prematurus. Berat badan kedua janin pada kehamilan kembar tidak sama, dapat berbeda antara 50 sampai 1000 gram.
2.      Dalam pertumbuhan yang bersaing antara kedua janin hamil kembar dapat terjadi :
·         Terjadi monstrum, akardiakus
Pada kehamilan kemabr monozigotik peredaran darah terjadi tidak seimbang karena perbedaan pembuluh darah.pada jantung janin yang satu, peredaran darahnya lebh sempurna daripada janin yang lain sehingga terjadi gangguan pertumbuhan pada satu janin.
Macam-macamnya :
–          Akardiakus akornus ialah monstrum tanpa badan
–          Akardiakus asefalus ialah monstrum yang hanya terdiri atas panggul dan ekstremitas bawah
–          Akardiakus amorfus ialah monstrum tanpa bentuk yang terdiri atas jaringan ikat yang mengandung berbagai alat rudimeter dan diliputi kulit.
·         Pada janin yang mendapat darah lebih banyak dapat terjadi hidramnion, selain itu juga dapat terjadi polisitemia. Tapi pertumbuhan janin baik sedangkan pada janin kedua dapat menderita anemia, oligohidramnion, pertumbuhan janin kecil.
3.      Fetus Papiraseus
Ini terjadi pada kembar dizigotik dimana satu janin meninggal dan yang lainnya tumbuh terus sampai matur. Janin yang mati diabsobsi atau masih ditemukan dalam uterus. Cairan amnion dapat diserap semua dan janin berubah menjadi gepeng (fetus papiraseus/kompresus). Jika tertinggal dalam uterus dapat menyebabkan infeksi dan perdarahan. Plasenta fetus papiraseus berwarna putih, keras, fibritik dan berbatas tegas. Penemuan plasenta ini dapat menjadi indikator kemungkinan masih tertinggal janin kedua dalam uterus. Dapat pula satu konseptur mengalami perubahan menjadi mola hidatidosa sedangkan yang lain tumbuh terus sampai matur dan dilahirkan hidup. Tapi ini sangat jarang terjadi.
 
E.     LETAK PADA PRESENTASI JANIN
Pada hamil kembar sering terjadi kesalahan presentasi dan posisi kedua janin. Begitu pula letak janin kedua dapat berubah setelah janin pertama lahir, misalnya dari letak lintang berubah jadi letak sungsang atau letak kepala. Berbagai kombinasi letak, presentasi dan posisi bisa terjadi, yang paling sering dijumpai adalah:
–     Kedua janin dalam letak membujur; presentasi kepala (44-47%).
–          Letak membujur, presentasi kepala bokong (37-38%)
–          Keduanya presentasi bokong (8-10%)
–          Letak lintang dan presentasi kepala (5-5,3)
–          Letak lintang dan presentasi bokong (1,5-2%)
–          Dua-duanya letak lintang (0,2-0,6%)
–          Letak dan presentasi ’69’ adalah letak yang berbahaya, karena dapat terjadi kunci-mengunci (interlocking).
 
F.     DIAGNOSIS KEHAMILAN KEMBAR
1.      Anamnesis
–     Perut lebih buncit dari semestinya sesuai dengan umur tuanya kehamil­an
–          Gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu hamil
–          Uterus terasa lebih cepat membesar
–          Pernah hamil kembar atau ada riwayat keturunan kembar.
2.      Inspeksi dan palpasi
–          Pada pemeriksaan pertama dan ulangan ada kesan uterus lebih besar dan lebih cepat tumbuhnya dari biasa.
–          Gerakan-gerakan janin terasa lebih sering.
–          bagian-bagian kecil teraba lebih banyak.
–          Teraba ada 3 bagian besar janin.
–          Teraba ada 2 balotemen.
3.      Auskultasi
Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut permenit atau bila dihitung bersamaan terdapat selisih 10.
4.      Rontgen foto abdomen
Tampak gambaran 2 janin.
5.      Ultrasonografi
Bila tampak 2 janin atau dua jantung yang berdenyut yang telah dapat di­tentukan pada triwulan I.
6.      Elektrokardiogram total
Terdapat gambaran dua EKG yang berbeda dari kedua janin.
7.      Reaksi kehamilan
Karena pada hamil kembar umumnya plasenta besar atau ada 2 plasenta, maka produksi HCG akan tinggi, jadi titrasi reaksi kehamilan bisa positif, kadang-kadang sampai 1/200. Hal ini dapat dikacaukan dengan mola hidatidosa.
Kadangkala diagnosa baru diketahui setelah bayi pertama lahir, uterus masih besar dan ternyata ada satu janin lagi dalam rahim. Kehamilan kem­bar sering terjadi bersamaan dengan hidramnion dan toksemia gravi­darum.
 
G.    GAMBAR KLINIK KEHAMILAN KEMBAR
Pada kehamilan kembar dengan peregangan uterus yang berlebihan dapat terjadi persalinan prematuritas.
Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan kembar bertambah sehingga terjadi difisiensi nutrisi seperti anemia yang dapat mengganggu pertumbuhan janin. Frekuensi hidramnion pada hamil kembar sebesar 10 kali lipat lebih besar daripada kehamilan normal. Keregangan otot rahim yang menyebabkan iskemia uteri dapat meningkatkan kemungkinan pre-eklampsia dan eklampsia.
Solusio plasenta dapat terjadi setelah persalinan anak pertama karena retraksi otot rahim berlebihan. Perjalanan persalinan dapat terjadi lebih lama. Setelah persalinan terjadi gangguan kontraksi otot rahim yang menyebbakan atonia uteri menimbulkan perdarahan
Keluhan yang sering terjadi pada kehamilan kembar diantranya sesak nafas sering ingin kencing / edema tungkai, pembesaran pembuluh darah (varises)
Dengan janin (bayi) yang relatif berat badannya rendah menyebabkan morbiditas dan kematian yang tinggi.
Kemungkinan penyulit pada kehamilan kembar
Ibu
Bayi
Anemia
Hipertensi
Partus Prematurus
Atonia Uteri
Perdarahan pasca persalinan
Hidramnion
Malpresentasi
Plasenta previa
Solusio plasenta
Ketuban pecah dini
dan toksemia gravi­darum
Pertumbuhan janin terhambat
Kelainan bawaan
Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat
 
H.    PENGARUH TERHADAP IBU DAN JANIN
1.      Terhadap Ibu
–          Kebutuhan akan zat-zat bertambah, sehingga dapat menyebabkan ane­mia dan defisiensi zat-zat lainnya.
–          Kemungkinan terjadinya hidramnion bertambah 10 kali lebih besar.
–          Frekuensi pre-eklamsi dan eklamsi lebih sering.
–          Karena uterus yang besar, ibu mengeluh sesak napas, sering miksi, serta terdapat edema dan varises pada tungkai dan vulva.
–          Dapat terjadi inersia uteri, perdarahan postpartum, dan solusio plasenta sesudah anak pertama lahir.
2.      Terhadap Janin
–          Usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar: 25% pada gemeli; 50% pada triplet; dan 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya bayi prematur akan tinggi.
–          Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusio plasentae, maka angka kematian bayi kedua tinggi.
–          Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan mempertinggi angka kematian janin.
 
I.       PENANGANAN DALAM KEHAMILAN
1.      Perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakkan pemeriksaan ulangan harus lebih sering (1 x seminggu pada kehamilan lebih dari 32 minggu).
2.      Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari, karena akan merangsang partus prematurus.
3.      Pemakaian korset gurita yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih ringan.
4.      Periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah.
 
J.      PENANGANAN DALAM PERSALINAN
1.      Bila anak pertama letaknya membujur, kala I diawasi seperti biasa, di­tolong seperti biasa dengan episiotomi mediolateralis.
2.      Setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam untuk me­nentukan keadaan anak kedua. Tunggu, sambil memeriksa tekanan darah dan lain-lain.
3.      Biasanya dalam 10-15 menit his akan kuat lagi. Bila anak kedua terletak membujur, ketuban dipecahkan pelan-pelan supaya air ketuban tidak mengalir deras keluar. Tunggu dan pimpin persalinan anak kedua seperti biasa.
4.      Waspadalah atas kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum, maka sebaiknya pasang infus profilaksis.
–          Bila ada kelainan letak pada anak kedua, misalnya melintang atau terjadi prolaps tali pusat dan solusio plasenta, maka janin dilahirkan dengan cara operatif obstetrik
–          Pada letak lintang coba versi luar dulu, atau lahirkan dengan cara versi dan ekstraksi.
–          Pada letak kepala, persalinan dipercepat dengan ekstraksi vakum atau forseps.
–          Pada letak bokong atau kaki, ekstraksi bokong atau kaki.
5.      Indikasi seksio caesarea hanya pada:
–          Janin pertama letak lintang
–          Bila terjadi prolaps tali pusat
–          Plasenta previa
–          Terjadi interlocking pada letak janin 69, anak pertama letak sungsang dan anak kedua letak kepala.
Kala IV diawasi terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan postpar­tum: berikan suntikan sinto-metrin yaitu 10 satuan sintosinon tambah 0,2 mg methergin intravena.
Mekanisme Persalinan Kepala-kepala
            Saat kepala bayi membuka vulva 5-6 cm. Lakukan penahan perineum dengan tangan kanan, tangan kiri menahan kepala bayi agar tidak defleksi maksimal hingga sub oksipito lahir sebagai hipomoklion, lalu tunggu kepala putar paksi luar dan lakukan biparietal serta sangga susur. Lahirkan bayi kedua dengan jarak waktu 10-15 menit dari anak pertama, lakukan pertolongan persalinan seperti anak pertama.
 
Mekanisme Persalinan Letak Bokong Kepala
Bila kepala yang masuk PAP terlebih dahulu, Saat kepala bayi membuka vulva 5-6 cm. Lakukan penahan perineum dengan tangan kanan, tangan kiri menahan kepala bayi agar tidak defleksi maksimal hingga sub oksipito lahir sebagai hipomoklion, lalu tunggu kepala putar paksi luar dan lakukan biparietal serta sangga susur. Lalu anak kedua dilahirkan secara bracht :
·         Pertolongan dimulai setelah bokong anak lahir.
·         Bokong dipegang dengan kedua tangan sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari pada permukaan belakang pangkal paha dan emapat jari lainnya pada permukaan bokong.
·         Kalau kaki sudah lahir, maka bokong dipegang sedemikian rupa, sehingga kedua ibu jari terletak pada lipat paha dan jari lainnya menggenggam bokong
·         Bokong dibawa ke atas kerah perut ibu, dan sedikit kekiri dan ke kanan sesuai dengan letk punggung anak.
·         Sama sekali tidak boleh dilakukan tarikan karena dengan tarikan , lengan dapat menjungkit
·         Bokong terus dibawa ke atas ke arah perut ibu sampai kepala lahir
 
Mekanisme Persalinan bokong-bokong
Pertolongan Persalinan dilakukan menggunakan cara Bracht :
·         Pertolongan dimulai setelah bokong anak lahir.
·         Bokong dipegang dengan kedua tangan sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari pada permukaan belakang pangkal paha dan emapat jari lainnya pada permukaan bokong.
·         Kalau kaki sudah lahir, maka bokong dipegang sedemikian rupa, sehingga kedua ibu jari terletak pada lipat paha dan jari lainnya menggenggam bokong
·         Bokong dibawa ke atas kerah perut ibu, dan sedikit kekiri dan ke kanan sesuai dengan letk punggung anak.
·         Sama sekali tidak boleh dilakukan tarikan karena dengan tarikan , lengan dapat menjungkit
·         Bokong terus dibawa ke atas ke arah perut ibu sampai kepala lahir
 
 
 
Mekanisme Persalinan Lintang Kepala
Jika anak pertama lintang, maka tidak dapat dilakukan pertolongan secara spontan, maka dilakukan persiapan SC.
Bila anak pertama presentasi kepala maka lakukan pertolongan persalinan, saat kepala bayi membuka vulva 5-6 cm. Lakukan penahan perineum dengan tangan kanan, tangan kiri menahan kepala bayi agar tidak defleksi maksimal hingga sub oksipito lahir sebagai hipomoklion, lalu tunggu kepala putar paksi luar dan lakukan biparietal serta sangga susur. Lalu anak kedua dilahirkan dengan versi ekstraksi :
·          Jika ada lengan menumbung, tangan diulas dengan yodium dan di beri jerat. Jerat ini ditarik dengan ringan ke arah kepala anak dan waktu anak berputar diulur. Maksudnya supaya anak ini tetap menunjuk ke bawah, jadi tidak menjungkit, yang sangat menyukarkan lahirnya bahu.
·         Yang menjadi tangan dalam ialah tangan yang sepihak dengan kaki.
·         Setelah labia dibeberkan, tangan di masukkan kedalam vagina, tangan luar pindah ke fundus.
·         Tangan luar mendekatkan bokong ke tangan dalam; tangan dlam mencari kaki. Yang dicari aialah : jika punggung sebelah depan yaitu kaki bawah, jika punggung sebelah belakang yaitu kaki atas karena kaki tersebut akan menjadi kaki depan. Mencarinya adalah dari punggung, ke bokong, kepaha dan ke kaki, yang dijepit antara jari tengah dan telunjuk.
·         Tangan luar menolak kepala kefundus; tangan dalam menarik kaki keluar sampai lutut
·         Kaki dilepaskan sebentar
·         Ekstraksi : kita pegang tungkai bawah dengan kedua tangan sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari berdampingan. Arah tarikan ke bawah ialah kearah kaki kita sendiri. Kemudian kita pindahkan pegangan setinggi-tingginya tapi jangan memegang pada persendian. Kita tarik terus kebawah sampai trochantor depan ada dibawah sympisis; kemudian kita tarik ke atas untuk melahirkan pantan belakang. Pegang panggul anak dengan dua tangan sehingga ibu jari terletak berdampingan atau bersilang pada sacrum, sedangkan jari telunjuk tangan kiri pada crista iliaca kiri dan telunjuk kanan pada crista iliaca kanan. Jari lainnya menggenggam bokong dan paha. Kita tarik lagi ke arah kaki kita. Waktu pusat lahir, Tali pusat dilonggarkan. Kita tarik sampai menjumpai rintangan biasanya waktu bahu akan lahir. Bahu dilahirkan secara muller atau deventer (klasik). Kepala dilahirkan secara Mauriceau.
Mekanisme Persalinan Lintang Bokong
Jika anak pertama lintang, maka tidak dapat dilakukan pertolongan secara spontan, maka dilakukan persiapan SC.
Jika anak pertama bokong lakukan pertolongan persalinan secara Bracht dan anak kedua dilakukan dengan cara versi ekstraksi.
 
Mekanisme Persalinan Lintang-lintang dan interlocking
Tidakm dapat dilakukan pertolongan persalinan secara spontan, harus melakukan SC
 
 
K.      PROGNOSIS
Ibu : – Partus lama
–          Taruma jalan lahir
–          Perdarahan post partum
            Prognosis untuk ibu lebih jelek bila dibandingkan pada kehamilan tunggal, karena seringnya terjadi toksemia gravidarum, hidramnion, anemia, pertolongan obstetri operatif, dan perdarahan pospartum.
            Angka kematian perinatal tinggi terutama karena prematur, prolaps tali pusat, solusio plasenta dan tindakan obstetrik karena kelainan letak janin.
 
L.     BAGAIMANA SIKAP BIDAN MENGHADAPI KEHAMILAN KEMBAR
Bila bayi pada kehamilan kembar relatif kecil dari posisinya memungkinkan untuk dilakukan persalinan pervaginam maka dapat dilaksankan pertolongan persalinan setempat pada praktik swasta atau dipolindes dan puskesmas. Bila pertimbangan komplikasi yang lebih besar maka kehamilan kembar sebaiknya dirujuk ke tempat dengan fasilitas yang cukup dan memadai.
 
M.   TATALAKSANA KEHAMILAN KEMBAR
 
   

 

ASUHAN KEBIDANAN
Pada ibu G…..P…. hamil … minggu  I/G/H inpartu kala …. fase…dengan gemelli
Presentasi anak pertama….anak kedua…
 
Tanggal / waktu           :
Tempat                                    :
Pengkaji                       :
 
I.Pengkajian
A. Data Subjektif
1.      Biodata
Umur                         : semakin tua usia ibu semakin berpotensi terjadi kehamilan ganda
Suku              : ras bisa menyebabkan kehamilan ganda kerena kehamilan ganda bisa menurun
 
  1. Keluhan Utama
Ibu mengtakan hamil anak ke …(multi) usia kehamilan … bulan, kenceng-kenceng sejak jam …, tanggal … dan keluar lendir bercampur darah jam …, tanggal… keluar cairan ketuban jam….. tanggal……berwarna……
 
  1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Tidak berpengaruh
 
  1. Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat kehamilan ganda pada kehamilan sebelumnya
 
  1. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat keturunan kembar dari keluarga ibu maupun suami.
 
  1. Riwayat menstruasi
            HPHT                          :
            HPL                             : aterm atau preterm
 
 7. Riwyat pernikahan
            Tidak berpengaruh
 
8. Riwayat Obstetri
            Ibu pernah mengalami kehamilan ganda sebelumnya.
 
 9. Riwayat KB
Tidak berpengaruh
 
10. Riwayat kehamilan sekarang
            ANC sejak UK……
            TM I  …x, keluhan: mual munyah. Tx: Fe, vit C, kalk.
HE: makan sedikit tapi sering, tanda bahaya kehamilan.
TM II …x, keluhan: sesak nafas.Tx: Fe, vit C, kalk
HE: kurangi aktifitas terlalu berat, teknik relaksasi
TM III…x, keluhan: diuresis, hipertensi, edeme tungkai/vulva. Tx: Fe, vit C, kalk .
HE:  kurangi konsumsi garam, tanda persalinan.
Imunisasi TT…
Merasakan gerakan janin sejak UK 4 -5 bulan dan banyak.
 
11. Riwayat kehamilan sekarang
            Ibu mengatakan hamil….bulan, anak ke…..mengeluh kenceng-kenceng sejak pukul….tanggal….mengeluarkan lendir darah pukul…..tanggal….dan mengeluarkan air ketuban pukul….tanggal…., ibu dibawa ke tenaga kesehatan pukul……….tanggal…..
 
12. Pola Kebiasaan Sehari-hari.
           
No
Jenis
Selama hamil
Selama inpartu
1
Nutrisi
 
Pola makan
3 x / hari
Terakhir makan jam…..tgl…..
 
Nafsu  makan
Baik
Berkurang
 
Jenis makanan
Nasi, lauk, sayur, buah
Nasi, lauk, sayur
 
Porsi
1 piring sedang
½ piring
 
Minuman
Air dan susu
Terakhir jam … Air gula
 
Jumlah yang diminum
± 7-8 gelas dan 1 gelas susu
3 gelas
2
Eliminasi
 
BAK
8-9 x  hari, jernih, ammonia
Terakhir jam …
 
BAB
1 x / hari
Terakhir jam …
3
Istirahat
 
Siang ( lamanya )
± 1 jam
… jam
 
Malam ( lamanya )
± 7 jam
… jam
4
Personal hygiene
 
Mandi
2-3 x / hari
Terakhir jam….tgl…..
 
Gosok gigi
2 x / hari
Terakhir jam….tgl….
 
Cuci rambut
3 x seminggu
Terakhir  tgl…
5
Pola ketergantungan
 
Minum-minuman keras
 
 
Obat-obatan terlarang
 
 
Merokok
 
 
 
12. Riwayat Psikososial
            Tidak berpengaruh
 
 
B Data Objektif
            1. Pemeriksaan Umum
                KU               : baik/ cukup               
                Kesadaran    :Composmentis           
TTV :   TD : rendah (< 120/80) atau tinggi (> 120/80)
Nadi : dbn (80-90x / menit)                           
RR    : dbn (20-24 x / menit)               TB : > 145 cm
Suhu : dbn (36,5-37,5°C)                    BB : Sebelum hamil : … kg
                                                             Sesudah hamil : … kg
Ukuran lila : …..cm
            2. Pemeriksaan Fisik
                a. Kepala
                        Rambut            : bersih, rontok  
Muka               : dbn
                        Mata                : dbn
                        Gilut                : dbn
b. Leher                   : ada pemebesaran kelenjar tiroid
c. Dada                    : dbn
d. Abdomen             : pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
(presentasi kepala-bokong)
L I        :TFU …… (…) cm ( TFU lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba bagian keras dan melenting (kepala) dan ada bagian lunak yang tidak melenting (bokong) pada fundus. TBJ = … gram
L II      :Teraba 2 tahanan keras memanjang yaitu di perut kanan dan kiri (puka-puki), teraba banyak bagian kecil.
L III     : Teraba keras dan melenting (kepala) dan teraba lunak dan tidak melenting (bokong) pada perut bagian bawah.
LIV      : Kepala Sudah masuk PAP (4/5)
                       
            (presentasi bokong-bokong)
LI        : TFU …… (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba dua bagian keras dan  melenting  (kepala) pada fundus, TBJ = … gr
LII       : teraba 2 tahanan keras memanjang diperut kanan dan kiri (puka-puki), teraba banyak bagian kecil
LIII      : teraba dua bagian lunak dan tidak melenting (bokong)
LIV      : kepala sudah masuk PAP (4/5)
 
            (presentasi kepala-kepala)
LI        : TFU … (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba dua bagian lunak dan  tidak melenting  (bokong) pada fundus, TBJ = … gr
LII       : teraba 2 tahanan keras memanjang diperut kanan dan kiri (puka-puki), teraba banyak bagian kecil
LIII      : teraba dua bagian keras dan  melenting (kepala)
LIV      : kepala sudah masuk PAP (4/5)
 
            (Presentasi lintang kepala )
LI         : TFU …… (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba bagian lunak dan  tidak melenting  (bokong) pada fundus, TBJ = … gr
                        LII       : teraba bagian lunak dan tidak melenting (bokong) di sebelah kanan perut ibu dan teraba bagian keras dan melenting (kepala) di sebelah kiri perut ibu.
                        LIII      : teraba keras dan melenting (kepala)
                        LIV      : kepala sudah masuk PAP (4/5)
 
            (Presentasi lintang bokong)
LI         : TFU …… (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba bagian keras dan  melenting  (kepala) pada fundus, TBJ = … gr
                        LII       : teraba bagian lunak dan tidak melenting (bokong) di sebelah kanan perut ibu dan teraba bagian keras dan melenting (kepala) di sebelah kiri perut ibu.
                        LIII      : teraba lunak dan tidak melenting (bokong)
                        LIV      : kepala sudah masuk PAP (4/5)
 
(Presentasi lintang-lintang)
LI        : TFU …… (…) cm, teraba kosong pada fundus, TBJ = … gr
LII       : teraba bagian lunak dan tidak melenting (bokong) serta bagian keras dan melenting (kepala) di sebelah kanan perut / teraba 2 bagian lunak dan tidak melenting (bokong) ibu dan teraba bagian keras dan melenting (kepala) serta teraba bagian lunak dan tidak melenting (bokong) / teraba 2 bagian keras dan melenting (kepala)di sebelah kiri perut ibu.
LIII      : teraba kosong pada bagian perut ibu, tidak masuk PAP
LIV      : –
 
DJJ      : 120 – 160 x/menit, selisih DJJ kedua janin tidak kurang dari 10
His       :….x/….detik/10 menit
 
                e. Genentalia            : ada blood show atau tidak
            VT (presentasi kepala bokong) :
–          jika kepala masuk PAP : teraba UUK sebagai denominator
–          jika bokong yang masuk PAP : teraba sacrum, anus, dan dua lipat paha sebagai denominator
VT (presentasi bokong bokong) : teraba sacrum, anus, dan dua lipat paha sebagai denominator
VT (presentasi kepala kepala) : teraba UUK sebagai denominator
VT (presentasi lintang bokong) : teraba sacrum, anus, dan dua lipat paha sebagai denominator
VT (presentasi lintang kepala) : teraba UUK sebagai denominator
VT (presentasi lintang lintang) : teraba skapula atau sternum sebagai denominator
 
  f. anus                    : hemoroid atau tidak
                g. Ekstrimitas           : dbn
           
3. Pemeriksaan Penunjang
Darah lengkap
Urine lengkap
USG : Tampak 2 janin atau lebih, kedudukan anak, posisi janin, air ketuban, letak plasenta, DJJ, TBJ, Usia kehamilan, Taksiran persalinan.
 
II. Interpretasi data dasar
1.      Dx : ibu G…P… hamil UK : aterm I/G/H inpartu kala … fase…dengan gemeli presentasi anak pertama kepala dan anak kedua bokong
Ds  : ibu mengatakan hamil 9 bulan Anak pertama. Mengeluh kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir
Do : TD     : 120/80 mmHg
Nadi     : 60 – 100 x/menit
Suhu    :36,5 – 37,5 °C
Rr        :18-20 x / menit
L I        :TFU …… (…) cm ( TFU lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba bagian keras dan melenting (kepala) dan ada bagian lunak yang tidak melenting (bokong) pada fundus. TBJ = … gram
L II      :Teraba 2 tahanan keras memanjang yaitu di perut kanan dan kiri (puka-puki), teraba banyak bagian kecil. Anak pertama teraba puka dan anak kedua teraba puki
L III     : Teraba keras dan tidak dapat dilentingkan (kepala) dan teraba lunak dan tidak melenting (bokong) pada perut bagian bawah. Anak pertama teraba kepala dan anak kedua teraba bokong
LIV      : Kepala Sudah masuk PAP (4/5)
VT : jika kepala masuk PAP : teraba UUK sebagai denominator
jika bokong yang masuk PAP : teraba sacrum, anus, dan dua lipat paha sebagai denominator
DJJ            : 120 – 160 x/menit, selisih DJJ kedua janin tidak kurang dari 10
His : …x/menit
 
 
 
2.      Dx : ibu G…P… hamil UK : aterm I/G/H inpartu kala …fase…dengan gemeli, prsentasi anak pertama kepala dan anak kedua kepala
Ds  : ibu mengatakan hamil 9 bulan Anak pertama. Mengeluh kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir
Do : TD     : 120/80 mmHg
Nadi     : 60 – 100 x/menit
Suhu    :36,5 – 37,5 °C
Rr        :18-20 x / menit
LI        : TFU … (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba dua bagian lunak dan  tidak melenting  (bokong) pada fundus, TBJ = … gr
LII       : teraba 2 tahanan keras memanjang diperut kanan dan kiri (puka-puki), teraba banyak bagian kecil. Anak pertama teraba puka dan anak kedua teraba puki
LIII      : teraba dua bagian keras dan  melenting (kepala) di perut bagian bawah
LIV      : kepala sudah masuk PAP (4/5)
VT (presentasi kepala kepala) : teraba UUK sebagai denominator
DJJ            : 120 – 160 x/menit, selisih DJJ kedua janin tidak kurang dari 10
His : …x/menit
3.      Dx : ibu G…P… hamil UK : aterm I/G/H inpartu kala … fase…dengan gemeli, presentasi anak pertama bokong dan anak kedua bokong
Ds  : ibu mengatakan hamil 9 bulan Anak pertama. Mengeluh kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir
Do :  TD    : 120/80 mmHg
Nadi     : 60 – 100 x/menit
Suhu    :36,5 – 37,5 °C
Rr        :18-20 x / menit
LI        : TFU …… (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba dua bagian keras dan  melenting  (kepala) pada fundus, TBJ = … gr
LII       : teraba 2 tahanan keras memanjang diperut kanan dan kiri (puka-puki), teraba banyak bagian kecil. Anak pertama teraba puka dan anak kedua teraba puki
LIII      : teraba dua bagian lunak dan tidak melenting (bokong) di perut bagian bawah
LIV      : kepala sudah masuk PAP (4/5)
VT (presentasi bokong bokong) : teraba sacrum, anus, dan dua lipat paha sebagai denominator
DJJ       : 120 – 160 x/menit, selisih DJJ kedua janin tidak kurang dari 10
His       : …x/menit
 
 
4.      Dx : ibu G…P… hamil UK : aterm I/G/H inpartu kala … fase… dengan gemeli, presentasi anak pertama bokong dan anak kedua lintang
Ds  : ibu mengatakan hamil 9 bulan Anak pertama. Mengeluh kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir
Do : TD     : 120/80 mmHg
Nadi     : 60 – 100 x/menit
Suhu    :36,5 – 37,5 °C
Rr        :18-20 x / menit
LI         : TFU …… (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba bagian keras dan  melenting  (kepala) pada fundus, TBJ = … gr
LII       : teraba bagian keras dan memanjang di sebelah kanan perut ibu  dan teraba lunak dan tidak melenting (bokong) di sebelah kiri perut ibu. Anak pertama teraba puka dan anak kedua teraba kepala di sebelah kanan perut ibu
                        LIII      : teraba lunak dan tidak melenting (bokong)
                        LIV      : kepala sudah masuk PAP (4/5)
VT (presentasi lintang bokong) :  
bokong :teraba sacrum, anus, dan dua lipat paha sebagai denominator
lintang : teraba scapula atau sternum sebagai denominator
DJJ       : 120 – 160 x/menit, selisih DJJ kedua janin tidak kurang dari 10
      His       : …x/menit
5.      Dx : ibu G…P… hamil UK : aterm I/G/H inpartu kala …  fase…dengan gemeli, presentasi anak pertama kepala dan anak kedua lintang
Ds  : ibu mengatakan hamil 9 bulan Anak pertama. Mengeluh kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir
Do : TD     : 120/80 mmHg
Nadi     : 60 – 100 x/menit
Suhu    :36,5 – 37,5 °C
Rr        :18-20 x / menit
LI         : TFU …… (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba bagian lunak dan  tidak melenting  (bokong) pada fundus, TBJ = … gr
LII       : anak pertama teraba bagian keras dan memanjang (punggung) di sebelah kanan perut ibu dan anak kedua teraba bagian keras dan melenting (kepala) di sebelah kiri perut ibu.
                        LIII      : teraba keras dan melenting (kepala)
                        LIV      : kepala sudah masuk PAP (4/5)
VT (presentasi lintang kepala) :
Kepala : teraba UUK sebagai denominator
Lintang : scapula atau sternum sebagai denominator
DJJ       : 120 – 160 x/menit, selisih DJJ kedua janin tidak kurang dari 10
His       : …x/menit
6.      Dx : ibu G…P… hamil UK : aterm I/G/H inpartu kala …. fase…dengan gemeli, presentasi anak pertama lintang dan anak kedua lintang
Ds  : ibu mengatakan hamil 9 bulan Anak pertama. Mengeluh kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir
Do : TD     : 120/80 mmHg
Nadi     : 60 – 100 x/menit
Suhu    :36,5 – 37,5 °C
Rr        :18-20 x / menit
LI        : TFU …… (…) cm, teraba kosong pada fundus, TBJ = … gr
LII       : anak pertama teraba bagian lunak dan tidak melenting (bokong) serta bagian keras dan melenting (kepala) di sebelah kanan perut / teraba 2 bagian lunak dan tidak melenting (bokong) ibu dan anak kedua teraba bagian keras dan melenting (kepala) serta teraba bagian lunak dan tidak melenting (bokong) / teraba 2 bagian keras dan melenting (kepala)di sebelah kiri perut ibu.
LIII      : teraba kosong pada perut bagian bawah dan fundus ibu
LIV      : –
VT (presentasi lintang lintang) : teraba skapula atau sternum sebagai denominator
DJJ       : 120 – 160 x/menit, selisih DJJ kedua janin tidak kurang dari 10
                        His       : …x/menit
Diagnosa yang dipilih adalah diagnosa nomer 2
Pemeriksaan penunjang         
Darah lengkap
USG : terlihat 2 bagian janin atau lebih, kedudukan anak, posisi janin, air ketuban, letak plasenta, DJJ, TBJ, Usia kehamilan, Taksiran persalinan.
 
I
II. Identifikasi Masalah Potensial
Ibu :  KPD    
Partus Lama
Inersia uteri
Atonia Uteri
Perdarahan pasca persalinan
Kematian ibu                                                
Bayi : hipoksia, BBLR, Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat
 
 
IV. Identifikasi kebutuhan segera
Rehidrasi dengan cairan infus RL 20 tetes / menit
Mempersiapkan donor darah
Resusitasi BBL
Kolaborasi dengan dokter obgyne
 
V. Intervensi
1. jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu
R/ ibu mengerti dan lebih kooperatif
2.    observasi TTV dan CHPB
R/ memberika energi dan tenaga pada ibu saat persalinan
3. Berikan ibu asupan per oral
R/ memantau perkembangan keadaan ibu
4. Anjurkan keluarga untuk memberikan motivasi pada ibu
R/ perbaikan psikologis pada ibu dan meringankan beban ibu dalam menjalani persalinan
5. Ajarkan ibu teknik distraksi-relaksasi
R/ mengurangi rasa sakit ibu ketika ada HIS
6. pasang infus RL 20 tetes per menit
R/ maintenance cairan
7. siapkan peralatan
R/ pertolongan persalinan yang aman
 
VI. Implementasi
Pelaksanaan intervensi tanggal……..jam………..
 
VII. Evaluasi
          Tanggal       :
          Jam             :
S : Ibu mengatakan hamil…..bulan anak ke…………..mengeluh kenceng-kenceng semakin sering dan ingin mengedan seperti orang BAB.
O  : TD            : 120/80 mmHg
Nadi     : 60 – 100 x/menit
Suhu    :36,5 – 37,5 °C
Rr        :18-20 x / menit
LI        : TFU … (…) cm ( tfu lebih besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan), teraba dua bagian lunak dan  tidak melenting  (bokong) pada fundus, TBJ = … gr
LII       : teraba 2 tahanan keras memanjang diperut kanan dan kiri (puka-puki), teraba  banyak bagian kecil. Anak pertama teraba puka dan anak kedua teraba puki
LIII      : teraba dua bagian keras dan  melenting (kepala)
LIV      : kepala sudah masuk PAP (1/5)
VT (presentasi kepala kepala) : u/v taa. Portio tidak teraba. Eff 100%. Pembukaan 10 cm. Ket (-). Teraba UUK. Molage 0. HIII+. Tidak teraba bagian kecil yang menumbung.
DJJ            : 120 – 160 x/menit, selisih DJJ kedua janin tidak kurang dari 10
His : 4x dalam 10 menit, lama > 40 detik
 
            A  : Ibu G…P……Hamil….mg I/G/H Inpartu kala II dengan Gemeli, presentasi anak pertama Kepala dan anak kedua kepala
            P   : – Persiapan Persalinan
                   – Pimpin ibu meneran bila ada his dan dorongan meneran
                   – Observasi DJJ dan nadi saat tidak ada his
 
CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal :……….          Jam :…………
S          : ibu mengatakan lega karena anak pertamanya sudah lahir
O         : bayi pertama lahir  hidup spontan, laki-laki, tanggal….jam….AS : 8-9
            Cek fundus : ada janin kedua
            LI         : TFU pertengahan px-pusat, teraba lunak, kurang bulat, kurang melenting (bokong)
LII       : Teraba tahanan keras dan memanjang di sebelah kiri perut ibu (punggung)
            LIII      : Teraba keras, bulat, tidak dapat dilentingkan (kepala)
            LIV      : Kepala masuk PAP (1/5)
VT (presentasi kepala kepala) : u/v taa. Portio tidak teraba. Eff 100%. Pembukaan 10 cm. Ket (-). Teraba UUK. Molage 0. HIII+. Tidak teraba bagian kecil yang menumbung.
A         : Ibu G…P…hamil….mgg I/T/H inpartu kala II
P          : Drip oxytocin 10 UI
            Pimpin ibu meneran bila ada his dan dorongan meneran
            Observasi DJJ dan nadi saat tidak ada his
 
CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal :…….             Jam :………….
S          : ibu mengatakan lega karena anak keduanya sudah lahir
O         : bayi kedua lahir hidup spontan, perempuan, tanggal….jam….AS : 8-9
            Cek fundus : tidak ada bayi kedua
            Suntik oxytocin 10 UI secara IM
            Penilaian bayi baru lahir dan perawatan bayi baru lhir
A         : Ibu P10002 inpartu kala III
P          : Lakukan menejemen aktif kala III
              Cek perdarahan
 
CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal :…….             Jam :………….
S          : ibu mengatakan lega karena plasenta telah lahir
O             : plasenta lahir spontan,  tanggal….jam….
            Melakukan manajemen aktif kala III
A         : Ibu P10002 inpartu kala IV
P             :Observasi TTV, UC, TFU, Perdarahan, Kandung kemih
 
Catatan Perkembangan
Tanggal :……………………Jam : …………………….
S          : ibu mengatakan perutnya masih terasa mules dan mengeluarkan darah
O         : TD     : 110/80 mmHg
              N       :  80x/menit
              S        : 36,7
              Rr      : 18x/menit
              UC     : baik
             TFU    : 2 jari bawah pusat
              Kandung kemih         : kosong
             Perdarahan      : 30cc
A         : Ibu P10002 inpartu kala IV
P          : Observasi TTV, kontraksi, perdarahan. Kandung kemih dan TFU selama 2 – 6jam PP
              Pemeriksaan BBL dan pemberian Vit. K, salep mata dan HB0
              Ajari ibu masase uterus dan menilai kontraksi
              Bersihkan peralatan dan tempat
 

HIV – AIDS PADA KEHAMILAN

0
HIV – AIDS PADA KEHAMILAN

 

 

 

A.Pengertian

 

HIV adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh,dan AIDS adalah kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang dibentuk setelah lahir.

 

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.Acquired artinya didapat, jadi bukan merupakan penyakit turunan, immuno berarti sistem kekeblan tubuh,Deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome adalah kumpulan gejala.AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak kekebalan tubuh, sehingga mudah diserang oleh penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal.Padahal penyakit-penyakit tersebut misalnya berbagai virus,cacing,jamur,protozoa,dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal.Selain penyakit infeksi,penderita  AIDS juga mudah terkena kanker.Dengan demikian gejala AIDS amat bervariasi.Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Humman Immuno-deficiency Virus).

 

B.Stadium HIV

 

Infeksi HIV memilikin 4 stadium sampai nantinya menjadi AIDS, yaitu :

 

a.       Stadium I,Ibu dengan HIV positif  tidak akan menunjukkan gejala klinis yang berarti sehingga ibu akan tampak sehat seperti orang normal dan mampu melakukan aktifitasnya seperti biasa.

 

b.      Stadium II, Sudah mulai menunjukkan gejala yang ringan seperti terjadi penurunan berat badan kurang dari 10%,infeksi yang berulang pada saluran nafas san kulit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c.       Stadium III,Ibu dengan HIV sudah tampak lemah,gejala dan infeksi sudah mulai bermunculan dan ibu akan mengalami penurunan berat badan yang lebih berat ,diare yang tidak kunjung sembuh ,demam yang hilang timbul, dan mulai mengalami infeksi jamur pada rongga mulut bahkan infeksi sudah menjalar sampai ke paru-paru.

 

d.      Stadium IV,Pasien akan menjadi AIDS aktivitas akan banyak dilakukan di tempat tidur karena kondisi dan keadaan sudah mulai lemah ,serta infeksi mulai bermunculan di mana-mana dan cenderung berat.

 

 

 

C.Diagnosis

 

Diagnosis HIV/AIDS di negara berkembang Diagnosis sering terlambat karena : Diagnosis klinis dini  sulit karena periode asimptomatik yang lama. Pasien enggan / takut periksa ke dokter Sering pasien berobat pada stadium AIDS dengan infeksi oportunistik  yang sulit didiagnosis karena :  kurang dikenal manifestasi klinis atipikal  sarana diagnostik kurang.

 

DIAGNOSIS Klinis

 

Curiga AIDS secara klinis : Batuk lebih dari 2  3 minggu Penurunan berat badan menyolok > 10 %  Panas > 1 bulan Diare > 1 bulan Perhatikan : kandidiasis oral Herpes zooster yang luas, kambuhan  Sariawan rekuren dan berat

 

DIAGNOSIS klinis

 

Curiga AIDS secara klinis : Penyakit kulit :  dermatitis seborroik kambuhan,  psoriasis  prurigo noduler,  dermatitis generalisata Limfadenopati generalisata Infeksi jamur kambuhan ( kandidiasis vagina / keputihan ) pada alat kelamin wanita Pneumonia berat berulang Pasien TBC terutama :  TB ekstrapulmonal  : limfadenitis TB, efusi pleura TB, TB intestinal, TB peritoneal, TB kulit TB paru + kandida oral TB  MDR , TB-XDR

 

 

 

 

 

DIAGNOSIS

 

Curiga HIV secara klinis : Riwayat perilaku seksual Riwayat penggunaan narkoba Riwayat pekerjaan : pelaut, sopir truk, dll  Riwayat bekerja di daerah endemis dengan perilaku risiko tinggi Riwayat transfusi Perhatikan ciri khas / tanda kelompok risiko  misal : tato , perilaku tertentu Sekarang HIV sudah berkembang pada bukan kelompok risti misal ibu rumah tangga

 

 

 

DIAGNOSIS Laboratorium HIV

 

Diagnosis Laboratorium :  Serologis / deteksi antibodi : rapid tes, ELISA, Western Blot ( untuk konfirmasi ) Deteksi virus : RT- PCR, antigen p24 Indikasi :  Pasien secara klinis curiga AIDS Orang dengan  risiko tinggi Pasien infeksi menular seksual Ibu hamil di antenatal care ( PMTCT ) Pasangan seks atau anak dari pasien positip HIV.

 

DIAGNOSIS laboratorium Perhatikan negatif palsu karena periode jendela.Pada risiko tinggi , tes perlu diulang 3 bulan kemudian, dan seterusnya tiap 3 bulan. Hati-hati positif palsu terutama pada pasien yang asimptomatik. Pemeriksaan serologi harus dikonfirmasi dengan western blot, atau setidaknya harus dengan strategi 3 test dengan metode berbeda yang melibatkan ELISA.

 

 

 

D.Etiologi

 

Dengan melihat tempat hidup HIV, tentunya bisa diketahui penularan HIV terjadi kalau ada cairan tubuh yang mengandung HIV,seperti hubungan seks dengan pasangan yang mengidap HIV, jarum suntik,dan alat-alat penusuk (tato,penindik,dan cukur) yang tercemar HIV dan ibu hamil yang mengidap HIV kepada janin atau disusui oleh wanita

 

 

 

 

 

            Yang mengidap HIV (+).Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terkena HIV lebih mungkin tertular.Walaupun janin dalam kandungan dapat terinfeksi ,sebagian besar penularan terjadi waktu melahirkan atau menyusui, bayi lebih mungkin tertular jika persalinan berlanjut lama.Selama proses persalinan, bayi dalam keadaan beresiko tertular oleh darah ibu,Air susu ibu (ASI) dari ibu yang terinfeksi HIV juga mengandung virus itu. Jadi jika bayi disusui oleh ibu HIV (+), bayi bisa tertular.

 

            Prediksi Penularan tanpa Pencegahan dari Ibu ke bayinya

 

• Selama kehamilan : 5 – 10 %

 

• Selama persalinan : 10 -20 %

 

• Selama menyusui : 10 -20 %

 

Prediksi Penularan dari Ibu ke bayinya

 

 • Selama kehamilan : 5 – 30 %

 

• Selama persalinan : 25 – 35 %

 

• Selama menyusui : 30 – 45 %

 

            Menyusui Bayi dari Ibu HIV Positif

 

• Bila pengganti ASI tersedia, diterima, terjamin berkelanjutan, dan aman maka dianjurkan tidak menyusui

 

• Jika tidak ada pilihan: hanya boleh ASI Eksklusif 6 bulan

 

• Setelah 6 bulan secepatnya disapih dari ASI

 

• Setelah penyapihan diberikan makanan pengganti ASI yang mengandung tinggi energi dan protein, mikronutrien, dan kalsium Mengingat bahaya dan peningkatan kasus yang semakin tinggi dan penatalaksanaan yang semakin komplek, maka pemahaman tentang HIV/AIDS sangat diperlukan bagi kita semua.

 

 

 

E.Patofisiologi

 

 

 

            HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam sel atau media hidup. Virus ini “senang” hidup dan berkembang biak pada sel darah putih manusia. HIV aka nada pada cairan tubuh ynag mengandung sel darah putih seperti : darah,cairan plasenta,air mania atau cairan sperma,cairan sumsum tulang,cairan vagina,air susu ibu atau cairan otak.

 

HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi.Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut “sel T-4” atau disebut juga “sel CD-4”.

 

            Setelah terinfeksi HIV,50-70% penderita akan mengalami gejala yang disebut syndrome HIV akut.Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus pada umumnya yaitu berupa demam,sakit kepala,sakit tenggorokan,miagia(pegal-pegal diekstermitas bawah) pembesaran kelenjar dan rasa lemah.Pada sebagian orang, infeksi berat dapat disertai kesadaran menurun.Sindrom ini biasanya akan menghilang dalam beberapa minggu.Dalam waktu 3-6 bulan kemudian,tes serologi baru akan positif ,karena telah terbentuk anti body.Masa 3-6 bulan ini disebut Window Periode, dimana penderita dapat menularkan namun secara labolaturium hasil tes HIV-nya masih negatif.

 

 

 

F.Pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi

 

Pencegahan HIV dari ibu ke bayi dengan cara :
Perode antenatal : penggunaan antiretroviral selama kehamilan, agar vital load rendah shg jml virus yg ada dlm darah dan cairan tbh kurang efektif utk menularkan HIV
Saat melahirkan : penggunaan ARV saat persalinan dan BBL, persalinan sebaiknya SC (terbukti mengurangi risiko penularan 80%)

 

 

 

Setelah persalinan : informasi yg lengkap pd ibu ttg risiko ASI.

 

  • Wanita hamil dg HIV akan memproduksi antibodi IgG
  • IgG menembus plasenta ke janin
  • Darah tali pusat memberi hsl positif saat test ELISA (enzime linked immunosorbent assay).

 

Ibu HIV positif dapat mengurangi resiko bayinya tertular dengan mengkonsumsi obat anti retroviral (ARV), menjaga proses kelahiran agar tetap singkat waktunya,hindari menyusui pada saat penggunaan ARV,dan syarat diet pada orang dengan HIV : kebutuhan zat gizi dihitung sesuai dengan kebutuhan individu,menghindari rokok,kafein,dan alcohol.

 

G.Tips Membantu Persalinan Pada Ibu Dengan HIV/AIDS

 

Saat membantu persalinan pada seorang ibu yang terinfeksi HIV/AIDS, sebaiknya menggunakan pencegahan infeksi terhadap perlindungan diri sendiri, sebab jika tubuh kita sedang dalam keadaan lemah dan terdapat luka,besar kemungkinan kita akan tertular, oleh sebab itu pada saat membantu persalinan pada pasien dengan riwayat  HIV/AIDS ini, Gunakanlah pencegah infeksi yang aman bagi tubuh kita sendiri karena darah yang akan keluar setelah ibu melahirkan dapat menular pada tubuh kita yang sistem kekebalan tubuhnya sedang melemah.

 

Biasanya pasien dengan riwayat HIV/AIDS ini harus ditolong dengan cara section caesaria (SC) /operasi cesar, karena apabila bayi lahir melalui vagina ibu ditakutkan bayi akan tertular HIV/AIDS, sebab darah yang keluar dari vagina akan segera menyerang tubuh bayi yang belum mendapatkan sistem kekebalan tubuh.

 

 

 

 

 

 

 

Bayi yang lahir dari seorang riwayat HIV/AIDS tidak boleh menyusui bayinya, sebab besar kemungkinan bayi akan tertular HIV/AIDS dari ibunya karena cairan yang dihisap bayi (ASI) akan langsung mengalir keseluruh tubuh bayi. Untuk menjaga agar bayi tidak tertular sebaiknya diberikan susu formula untuk menjaga bayi agar tidak tertular HIV/ADIS sehingga nutrisi bayi juga terpenuhi.